Minggu, 30 Maret 2014

#NobarKK The Raid 2: Berandal - Serba GRATIS

Setiap hari jumat blog ini update, tapi minggu ini gue telat ngepost. Gue punya alasan kuat untuk yang satu ini. Karena hari jumat (28 Maret 2014) gue dapet 2 tiket nonton "the raid 2 - Berandal" dari Kancut Keblenger tercintong yeah #NobarKK

FOTO YANG DIAMBIL OLEH CEO KK
Cukup rame tapi ternyata masih banyak tiket yang tersisa gitu karena banyak yang nggak dateng. Di penghujung bulan Maret, ini menjadi hadiah terindah gue yang lahir di bulan Maret. Penuh hadiah. Hahahaha
TIKET DAN KUPON SNACK
Gue kira bakal cuma nonton gitu. Taunya ada lagi ekor GRATIS-nya, yaitu kupon snack. Sejak kuliah di jurusan broadcast, sering banget gue nonton film di bioskop GRATIS tapi nggak dapet snack, jadi cukup kaget juga ngedapetin ini. Hahaha

YEAY MOOD BOOSTER DAY
Sebenernya banyak teman seperjuangan yang pengen gue ajak, berhubung gue cuma dapet 2 atau mungkin lebih tepatnya gue cuma "request" 2 tiket jadi mau nggak mau gue memutuskan untuk memilih temen jalan gue sambil cangcingcung *maklum jomblo*
DRESSCODE SAMAAN
Berhubung gue mengalami hari apes yaitu syuting di kondisi yang sangat buruk bareng jadi dia terpilih sebagai teman yang menemani gue hari ini. Hahaha kalau nggak ada #NobarKK mungkin mood gue seharian jelek dan mental breakdown gitu, sangking parahnya kondisi syuting di pagi hari itu.

Oia, gue lupa kasih tau ini #NobarKK nya di XXI epicentrum yang cuma punya 2 studio itu loh. Tenang, ke-KAGET-an dan ke-GRATIS-an gue belum berakhir di situ. Ternyata kursi gue ada di row "R" dengan kursi barisan "T" menjadi yang paling terdepan. Artinya gue duduk di 3 baris depan dari layar. Dan gue ngedongak. Ini jadi lucu saat nonton, gue dan susan harus nengok ke kanan dan ke kiri saat ada adegan yang bergerak dari arah berlawanan.
KAOS THE RAID 2
Jadi sebelum nonton film dimulai, ada tantangan gitu deh buat ngedapetin kaos The Raid 2. Walau bukan yang official tapi tetep aja judulnya GRATIS jadi gue maju. Sempet tuh gue liat om Tio Pakusadewo, si Bad Guy. Kalau dipikir, beliau selalu dapet peran yang Bad Guy gitu. Gue pengen beud foto sama dia, tapi apa daya, dia menghilang dengan cepat.

Terima kasih untuk KANCUT KEBLENGER. Gue baru gabung 2014 ini dan sudah merasakan kenikmatan yang luar biasa. Nggak muluk soal GRATISAN aja, tapi dengan konsistensi gue ngeblog tiap minggunya. Senang merasa bersaing dengan teman blogger lain, nggak mau kalah kalau mereka bisa konsisten. Kadang teman-teman juga sering ngingetin kebiasan gue nulis blog di hari Jumat. Karena tulisan ini ditulis di tanggal 30 Maret, gue mau ngucapin SELAMAT HARI FILM NASIONAL!! Sering-sering lah ber-sotoy ria di Bioskop untuk FILM INDONESIA.

P.S: Buat review The Raid 2 klik di sini
Pandang lagi langitnya »»  

Jumat, 21 Maret 2014

Wanita dengan "Beauty is Pain"

Semua wanita ingin cantik. Itu adalah keinginan yang paling sederhana di dunia ini bagi seorang wanita. Barulah kemudian, impian kedua mereka adalah menjadi seorang pengantin. Memang terlihat sederhana walau sebenarnya untuk mendapatkan hal itu melalui serangkaian hal yang rumit. Nah, kerumitan inilah yang bikin wanita memiliki julukan sebagai “mahkluk paling ribet”. 

Terkait masalah kecantikan, wanita ingin cantik itu bukan karena dia merasa jelek loh #Sotoy. Entah apa ukuran cantik yang sebenarnya, tapi toh manusia seringkali susah puas dengan apa yang dia punya. Nah, biasanya wanita ingin cantik sesuai dengan keinginan mata pria. Oke, gue #Sotoy lagi.
BEAUTY IS PAIN. SOURCE: @REALHANGENG
Dari keinginan cantik inilah muncul istilah “Beauty is pain”. Sebelum ada kata ini, ada yang namanya “Beauty is hard”, yang artinya “Cantik itu sulit”. Makna dari cantik itu sulit, adalah dibutuhkanlah kerja keras atau usaha untuk mendapatkan kecantikan. Misalnya aja dengan rajin perawatan sederhana di rumah sampai rutin pergi ke salon kecantikan. Rasa-rasanya memang sulit sih, nah dari kata “Beauty is hard” ini muncullah slogan baru, yaitu “Beauty is pain” yang akan gue jabarkan dengan ilmu ke-sotoy-an gue.

Tentu dari artinya, semua orang tau arti dari “Beauty is pain”. Gue mengartikan ini menjadi dua, yaitu “Cantik itu luka” dan “Cantik itu menyakitkan”. Ya, hampir sama kan sebenarnya. Gue #Sotoy aja sih sebenarnya untuk membuatnya menjadi 2 makna yang berbeda. Cantik itu luka. Kalau emang cantik itu luka, kenapa wanita di dunia ini masih memimpikannya? Mana ada orang yang menginginkan luka kan? 

Nah bisa dibilang karena luka itu menyakitkan, maka cantik itu menyakitkan. Nggak muluk, banyak orang yang rela mengeluarkan uangnya untuk merubah penampilannya dan yang paling ekstrim adalah OPERASI PLASTIK disingkat oplas. Walau suntik botox dan suntik sejenisnya bukan tergolong oplas, tapi sama-sama menyakitkan kan yah? Balik lagi soal oplas, Korea Selatan terkenal dengan oplasnya. Selain hasil yang bagus, harganya juga murah. Bahkan menurut keterangan temen kosan gue, yang jurusan sastra Korea, kata dosen doi, operasi plastik bisa 30 menit juga selesai. Jadi dimisalkan lo pergi istirahat makan siang mata masih sipit, pas balik eh mata udah belo'. Seperti sihir, dokter operasi plastik bisa mengabulkan keinginan setiap wanita untuk cantik tanpa perlu melalui proses yang panjang. Menyakitkan? Sudah jelas.
47 RAHANG DIPOTONG. SOURCE: DREAMERS RADIO
Operasi plastik untuk merubah wajah, pasti melalui serangkaian pemotongan tulang. Apalagi orang-orang Korea yang tekstur wajah aslinya kotak, kalau ingin wajah tirus yah harus dipotong dulu tulangnya. Kebayang gimana sakitnya. Bahkan ada klinik operasi plastik yang memajang rahang-rahang pasiennya,
TULANG RAHANG PASIEN KLINIK OPERASI PLASTIK
Oke, gue cukup shock ngeliatnya. Nggak hanya perempuan loh, laki-laki juga. Mungkin kalian semua sudah tahu soal operasi plastik begini dan begitu, tetapi gue cuma ngajak lo ngebayangin gimana rasa sakit yang harus mereka tanggung untuk mencapai impian mereka yaitu CANTIK. Sebuah film Korea yang berjudul 200 Pounds Beauty, sedikit menyentil tentang operasi plastik. Film ini menceritakan tentang Hana yang berat badannya 200 pons, diperalat oleh cowok yang dia suka. Biar move on, dia operasi plastik jadi kurus dan super cantik.

Yang bagus dari film ini adalah penggambaran cowok yang dia sukai, Sang-Jun yang bilang kalo dia itu benci sama "cewek operasi plastik", tapi tetep dia suka sama cewek cantik. Ini rada kontroversial ya kan? Lo mau cewek cantik, tapi nggak mau yang uda oplas. Gue paham sih rasanya dan normal kok. Tapi buat perempuan, ini berasa nggak adil ye? Gue sering dapet curhatan teman dan menyimpulkan hal yang seperti ini, "Cowok jelek punya pacar cantik mah banyak, cewek jelek punya cowok ganteng nggak mungkin".

Kalimat itu bisa dikatakan dengan teori #Sotoy gue, dimana setiap cowok pasti dapet pacar walau dia jelek, sementara cewek nggak. Walaupun ada aja sih yang dapet. Dan hal ini yang menuntut para wanita berusaha terlihat cantik. Entah untuk memuaskan batinnya sendiri, atau memang ingin DILIHAT oleh orang lain. Seolah-olah "inner beauty" mudah didapat, sementara "outer beauty" yang harus lebih diusahakan.
JUSTIN JEDLICA &VALERIA LUKYANOVA (KEN & BARBIE IN REAL LIFE)
Foto di atas beneran manusia loh dan mereka oplas wajah dan tubuh mereka agar mirip dengan Barbie dan Ken. Gue merinding sumpah, gue ngebayangin rasa sakit mereka. Apalagi setelah mereka bertransformasi mirip seperti boneka Barbie dan Ken, orang-orang bukan memuji mereka tapi mencaci mereka dengan kata "MONSTER". Udah ngelewatin proses sakit, eh harus sakit hati lagi denger kata orang. Entah mau simpati atau gimana, Valeria (si Barbie) merasa bangga dengan diri dia sekarang karena berhasil mewujudkan mimpinya (mimpi untuk jadi Barbie). Dan cuek sama apa yang orang katakan, walau ada beberapa orang yang bener-bener memuji "kesungguhan" Valeria dalam mencapai mimpinya itu. Saat gue nonton video mereka (lo bisa search di youtube, Barbie in real life), gue sempet menggigil beneran. Mungkin ini lebay, tapi emang sekaget itu gue.

Gue bersyukur tinggal di Indonesia yang nggak punya "sebuah patokan indah". Cantik itu bisa berupa apa saja di negara ini. Gue berharap begitu untuk selanjutnya, walau masih banyak hati wanita dan mungkin juga pria yang sakit dengan ejekan-ejekan fisik yang jelek. Tapi masih tetap memiliki rasa SYUKUR. Gue salut dengan orang-orang yang oplas itu, bukan berarti gue mendukung mereka oplas loh yah. Gue hanya salut dengan USAHA mereka, keGIGIHan mereka mengejar mimpi mereka walau rasanya SAKIT. Itu membuat gue termotivasi untuk nurunin badan gue atau mungkin berubah menjadi lebih baik.

Baru-baru ini, trend oplas di Indonesia mulai tercium dan berkembang. Bisa aja, negara kita ini punya biaya oplas yang murah kayak Korea Selatan nantinya, tapi sebelum itu terjadi, masih bisa kok usaha lewat photoshop dan kamera 360 :p
KREATIVITAS PHOTOSHOP
Gue tetap salut dengan kalian yang cuma menggunakan kamera 360 dan photoshop kok. Apalagi gue nggak bisa ngegunain photoshop heuheu. Nggak perlu rasa sakit, tapi tetep bisa cantik kan buat diliat sama orag lain doang mah #Sotoy. Gue selalu keinget kata-kata Saga Alice Nine yang bilang, kalo cewek Indonesia itu punya "natural beauty", dia uda bosen liat cewek-cewek Jepang yang ber-make up tebal. Eits, make up boleh aja kok. Gue cuma mengajak kalian untuk menghargai arti dari sebuah KECANTIKAN itu sendiri. Tanpa gue perlu bernasihat apa pun, pasti kalian ngerti kan? Hehehe maaf kalo ada salah-salah kata atas teori ke-sotoy-an gue. Oia, kalian bisa berbagi komentar #Sotoy kalian, terutama cowok nih ngeliat beginian kayak gimana? Cewek juga boleh kok komen heuheu. Sampai jumpa di "Beauty is Pain" part 2. Salam #Sotoy!

Source:
http://blog.asiantown.net/-/22313/korean-twin-sisters-turn-into-another-totally-different-twin-sister-after-plastic-surgery-pics
http://www.dreamersradio.com/article/29222/hiii-klinik-operasi-plastik-di-seoul-ini-pajang-menara-berisi-tulang-rahang-pasiennya
http://www.dailymail.co.uk/femail/article-2272066/Real-life-Barbie-Ken-Valeria-Lukyanova-Justin-Jedlica-meet-hate-sight-other.html
http://kameliamonamanis.blogspot.com/p/menghaluskan-wajah-dengan-photoshop.html
Pandang lagi langitnya »»  

Rabu, 12 Maret 2014

Teman berbulu - Si Menyon

Halo, apa kabar semua? Maaf sudah lama tak memposting. Gue nggak akan memberikan alasan "sibuk" selama gue masih bisa buka twitter. Hehehe nah, kali ini gue bikin posting yang baru kali yah, yaitu memperkealkan "teman-teman berbulu" gue satu per satu tapi nggak dalam satu postingan sih. Temen berbulu di sini bukan manusia yah, walaupun manusia juga berbulu sih hahahaha. Nah, karena gue tau semua orang pernah STRESS. Maka, gue akan kasih satu solusi ke lo semua, yaitu JANGAN KE MALL tapi ber-INTERAKSI dengan HEWAN. Oke, mari gue kenalkan teman berbulu gue yang satu ini.

SI MENYON DALAM EMPAT GAYA
MINTA DIMANJA - GALAU - TIDUR - BENGONG
Nama: Menyon
Jenis Kelamin: Jantan
Status: Sudah punya kekasih
Hobi: tidur, makan, dan minta dimanja
Kebiasaan: mengeong keras kalo kelaparan
Makanan favorit: semua, termasuk kerupuk ikan
Makanan tidak  favorit: ikan hias
Kebiasaan jelek: pup sembarangan di tempat empuk seperti kasur dan sofa, suka garuk-garukin sofa.

Banyak kucing rumahan yang pernah mampir di kehidupan keluarga kecil gue. Mulai dari si caty (baca: keti) sampai anak-anaknya yang sudah tumbuh besar dan kemudian mereka semua menjadi kejam dan jahat. Hahaha dan kemudian gue pindah rumah dan tidak pernah melihat kucing-kucing itu lagi. Nah, si Menyon ini adalah kucing rumah gue saat ini. Dulu namanya bukan MENYON tapi namanya "SI KUCING".

SI KUCING? Kok nggak dikasih nama? Dari awal keluarga gue emang nggak berniat memelihara kucing ini. Jadi dibiarkan bebas saja, masuk dan keluar rumah gue. Jadi dia tidak punya nama dan kami menyebut dia dengan nama "Si Kucing". Si menyon mulai kami anggap bagian keluarga semenjak dia berhasil menangkap tikus dan lama kelamaan dia seneng banget dimanja dan minta dielus. Dia jadi penghilang stress. Adik gue pulang sekolah, bokap pulang kerja, nyokap pulang dari pasar pasti serentak pertanyaannya adalah "Si kucing mana?" (waktu belum ada nama).

Asal muasal namanya MENYON adalah suatu hari saat bokap dan nyokap sedang asik nonton tv, tiba-tiba nyokap denger suara rintihan si Menyon yang mengeong-ngeong seperti minta pertolongan. Dan pas nyokap samperin, ternyata si Menyon mulutnya berdarah-darah. Gue adalah orang yang punya pemikiran kayak gini, "kok ada yah orang yang mau bawa hewan peliharaannya untuk sekedar operasi dengan biaya jutaan? Padahal kan duitnya bisa dipake macem-macem".

Dan ternyata ke-sotoy-an gue itu menerpa gue. Emak gue dengan panik langsung ngebawa si Menyon ke dokter hewan. Karena saat itu gue nggak ada di tempat, katanya sih, nyokap sambil nangis gitu. Karena kondisinya sekarat, tanpa melewati proses administrasi, si Menyon langsung ditangani. Dan yah beberapa minggu kemudian, sudah waktunya si Menyon diambil. Gue pun menemani nyokap dan terjadilah suatu percakapan dimana gue baru ngerasa nama itu penting.

Nyokap: Saya mau ambil kucing saya yang masuk (waktu si Menyon didatangkan ke sana)
Admisnistrator: Oh iya. Nama kucingnya siapa, bu?
Nyokap: eeeeh (noleh ke gue)
Gue: Namanya si Kucing, mba
Semua orang: (melihat ke gue dan nyokap)

Butuh waktu lama untuk menjelaskan kucing gue yang mane. Sampe pada akhirnya terdengar suara si Menyon mengeong keras banget. Dan pas dicek itu kucing gue. Dia tau kalau gue dan nyokap dateng buat ngambil dia. Karena mulutnya dijahit, mulutnya jadi mencong gitu. Nah, dari kata mencong lah, bokap memanggil si Kucing dengan nama si Menyon.

Si Menyon tuh manja banget. Kalau Anggi, adik gue pulang sekolah dan duduk di sofa, dia langsung lompat ke pahanya. Pas Bokap lagi tiduran di tiker, si Menyon naik ke perutnya. Bener-bener ngelepas stress walau sampai saat ini si Menyon berstatus piaraan freelance di rumah gue, yang artinya dia bebas pergi dan masuk ke rumah. Setiap malem, pasti si Menyon kita keluarin. Ngeri dia pup di sofa bahkan di kasur kadang-kadang. Pernah juga nyokap nyikatin giginya si Menyon secara paksa di westafel dengan kain karena si Menyon habis makan tikus. Terus nyokap juga pernah menyelamatkan burung peliharaan bokap yang sempet dimakan si Menyon, dengan nekat membuka paksa mulut si Menyon (heroik banget nih nyokap gue).

Itulah sekilas tentang teman berbulu gue. Kalo gue stress, kadang gue nggak bisa liat manusia. Lucu yah? Hahaha habis mukanya manusia pada stress gitu jadi makin tambah stress gue. Nah, untuk menghilangkan stress, biasanya gue akan liat foto dia atau nggak foto-foto kucing lucu di facebook. Atau nggak liat anime, kartun, alam, pokoknya bukan manusia deh. Hahaha nah kalian bisa loh share teman berbulu kalian dan kebiasaannya. Ada yang bilang, "Hewan peliharaan suka meniru pemiliknya". Siapa tahu, gue bisa tahu kebiasaan kalian apa dari kebiasaan hewan peliharaan kalian hahahaha #Sotoy
Pandang lagi langitnya »»  

Senin, 24 Februari 2014

Belajar Meniru ala Kise Ryota "Kuroko no Basket"

Kata seseorang pada gue, kalo diibaratkan gambar gunung  yang sering kita gambar waktu SD, apa yang gue pelajari di dunia kuliah baru gambar rerumputan atau sawah yang berbentuk V itu aja. Belom keseluruhan. Itu membuat gue agak kaget sih, secara gue sudah menempuh pendidikan dari TK sampai sekarang tetapi ternyata baru gambar rumput atau sawah aja yang gue dapet. Artinya dikit kan? Nah, ini menandakan kalo BELAJAR bisa darimana saja, termasuk dari karakter fiksi seperti ANIME (kartun Jepang).

Karakter Anime yang gue pilih untuk tema kita kali ini adalah Kise Ryota dari anime "Kuroko no Basket". Bagi pencinta anime, pasti sudah pada tau dia siapa atau nggak minimal pada tahu deh anime olahraga yang satu ini. Kuroko no Basket (KnB) menceritakan tentang Tetsuya Kuroko dengan dunia basketnya. Karakter yang menjadi pusat anime ini adalah "kiseki no sedai" (generasi keajaiban), yang memiliki kemampuan basket yang luar biasa dan luar logika. Pokoknya kiseki no sedai isinya orang-orang yang berbakat deh. Nah, Kise Ryota adalah salah satu anggota kiseki no sedai yang kemampuannya unik bagi gue tapi bisa kita pelajari, yaitu MENIRU.
KISE RYOTA
Di dalam anime, Kise bisa meniru gaya permainan basket siapa pun dengan cepat dan bahkan menyempurnakannya menjadi lebih baik. Di balik kemampuan meniru kise, ternyata dia cuma orang (karakter) yang "cepat belajar" sesuatu yang baru. Pertanyaannya adalah apa kerennya dari meniru? Nggak orisinil dong? Terus apa yang bisa kita pelajari dari MENIRU? Banyak, coy #Sotoy

Secara nggak sadar, apa yang kita lakukan semua adalah MENIRU. Dari awal kita belajar berjalan, kita meniru orang tua kita berjalan. Belajar bicara, kita pun juga meniru suara orang tua kita dari mendengar. Inilah kenapa tuna wicara biasanya berawal dari tuna rungu #Sotoy. Bagaimana dengan yang lain? Belajar gambar deh misalnya. Banyak banget temen gue yang jago gambar karena OTODIDAK. Semua orang terkagum-kagum dengan kata sakti yang satu ini, yaitu OTODIDAK, ketimbang dengan kata MENIRU. Tapi siapa yang tahu? Temen-temen gue yang OTODIDAK itu melakukan PENIRUAN pada gambar-gambar yang disukainya. Semakin sering meniru, semakin jago dia. Biar nggak monoton, dia pun meniru gambar yang lainnya. "Semakin banyak yang ditiru, semakin variasi kemampuan gambar yang bisa digambarnya".

Dalam pikiran gue, inilah alasan dimana Fanart (art yang dibuat oleh fans), Fanfiction (fiksi yang dibuat oleh fans), band-band cover bermunculan. Menurut ke-sotoy-an gue, PENIRUAN yang telah dilakukan berawal dari SUKA. Kalo nggak suka karya orang tersebut, mana mungkin ditiru. Lalu apa bedanya PLAGIAT dengan MENIRU? Kalo iseng buka KBBI, Plagiat memiliki arti pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri. Jadi, kalo kita melakukan PENIRUAN karya seseorang, kita bisa mengatakan "Ini karyaku, tribute to penciptanya". Nggak ngambil dan ngaku kan? Karena "meniru itu ada sebuah usaha, sementara plagiat hanya mencuri kemudian mengakuinya".

Lalu apa keuntungan dari semua peniruan yang kita lakukan? Apakah tidak bisa kita jadikan jadi keahlian kita? Jawabannya bisa. Ibaratnya, China bisa menjadi maju berkat barang tiruannya kan? Atau mungkin produk handphone Sams*ng yang banyak peminatnya itu? Hehehehe #Sotoy.  Berarti harus ada yang harus kita lakukan untuk maju setelah meniru kan? Mari kita belajar dari Kise Ryota, yaitu BERHENTI MENGAGUMI SESEORANG.
"Saat kau memandang seseorang, kau tidak bisa mengejar mereka" - Kise Ryota
KISE - AOMINE (SCREENCAPTURE EPISODE 24, SUBBED BY AWSUB)
Dalam Kuroko no Basket, Kise mulai bermain basket karena terkagum-kagum dengan permainan Aomine (yang pada akhirnya menjadi rekannya dalam kiseki no sedai) yang luar biasa hebat. Dan pada akhirnya di suatu episode, Kise harus berhadapan dengan Aomine dalam pertandingan basket. Tentu sebagai orang yang mengagumi permainan basket Aomine, hal ini menjadi berat. Ibaratnya seorang fans melawan idolanya sendiri. Di kehidupan nyata pasti hal ini terjadi dan sebagai orang yang memiliki idola, gue pun nggak kebayang gimana jadinya. Solusi Kise, "Berhenti mengagumi seseorang" adalah cara yang tepat menurut gue. Saat kita mengidolakan, mengagumi, menghormati seseorang, tanpa sadar kita nggak akan berusaha melampaui mereka dan ini yang membuat kita nggak maju.
"Walaupun nantinya, sekuat apapun aku berusaha, mungkin tetap tidak mungkin bisa melampauinya. Tapi itulah yang kumau!" - Kise Ryota
Berhenti mengagumi seseorang itu bukan berarti kita meremehkan mereka pada akhirnya, justru kita harus tetap ingat kalo merekalah yang membuat kita maju. Inilah mengapa banyak murid yang lebih pintar dari guru, dan faktor ini membuat beberapa guru nggak mau memberi keseluruhan ilmu yang dia punya. Ngerti sih rasanya, ibaratnya kayak siapa yang belajar eh yang nyontek yang nilai ujiannya bagus. Tapi yaah pelit ilmu nggak bikin maju kan yah? Sama seperti nasihat para guru juga, yaitu "Kalo ada temen yang minta ajarin, ajarin aja. Jangan pelit! Kan ilmunya jadi tambah ngelotok tuh".

Berkat Kise, gue mulai mencoba mengurangi rasa kagum gue pada seseorang (ya bukan orang terkenal sih, tapi gue yang kenal hahaha). Agar gue bisa melampaui dia, yang gue kagumi. Agak menyakitkan sih tapi gue akan coba. Lalu gue juga nyoba ngasah kemampuan gambar gue yang sudah mulai terlupa dengan cara Kise, yaitu MENIRU. Jadi, selamat meniru, teman! Salam sotoy~

*Source photo: Official Web Kuroko No Basket
Pandang lagi langitnya »»  

Jumat, 14 Februari 2014

Suka Buku VS Suka Baca

Banyak yang mengatakan kalo ingin menjadi seorang penulis, kamu harus rajin membaca. Ya, kalimat itu nggak asing buat gue, tapi gue tidak pernah memasukkan kata "membaca" sebagai hobi. Gue memilih kata "menulis" dan "menonton" sesuatu untuk kategori hobi gue. Masih teringat di suatu seminar kepenulisan, gue dicaci dan disudutkan hanya karena gue sendiri yang mengangkat tangan bahwa hobi gue bukanlah "membaca". Entahlah bukan berarti gue BENCI membaca. Apalagi setelah gue bicara, kalo buku favorit gue adalah komik. Dan baru gue tahu kalo komik itu BUKAN BUKU. Apa???!! Sementara novel masih masuk kategori buku. Hal ini membuat gue bertanya, apakah hanya karena komik itu bergambar maka dia tidak disebut buku? Tapi secara fisik, mereka berbentuk buku kan? Apa gue salah suka baca komik? Dan semua pertanyaan itu berkembang kepada diri gue sendiri, sebenernya gue SUKA BUKU atau SUKA BACA?
TUMPUKAN KOMIK GUE YANG UDAH NGGAK MUAT DI RAK
SUKA BUKU
Gue adalah orang yang lebih memilih untuk menghabiskan uang 50ribu untuk membeli sebuah BUKU daripada BAJU. Di saat teman-teman gue lebih "ngiler" ngeliat diskon baju, gue lebih ngiler liat diskon buku yang sialnya selalu dikit, paling gede juga 20%. Gue seneng banget ke perpustakaan, cuma untuk sekedar duduk melihat jejeran buku, mencium aroma tua buku, menyentuh lembar-lembar kering setiap halaman buku, membuka-buka halamannya secara asal, tanpa MEMBACA penuh keseluruhan isi buku. Mungkin kah gue sebenernya hanya suka BUKU? Tentu banyak orang yang pernah merasakan ini. Senang membeli buku, karena tertarik di awal dan lain sebagainya. Tapi pada akhirnya BUKU tersebut belum pernah dibaca. Hal ini sama seperti saat banyak meng-copy film di laptop tapi belum semua ditonton. Jadi sebenernya cuma doyan ngoleksi aja (tanpa disadari). Di beberapa ulang tahun, BUKU menjadi hadiah ulang tahun untuk gue (bukan komik loh yah). Gue seneng banget, tapi sekali lagi gue belom pernah tuntas membaca buku tersebut. Bukan karena malas, atau tidak punya waktu, entahlah mungkin karena gue cuma suka buku. Aroma buku yang baru dibeli misalnya, sangat menyenangkan daripada buku lama, tapi lembaran kertasnya masih lebih asik buku lama.

Di titik ini, gue menelusuri lagi, apakah benar gue masuk ke dalam kategori SUKA BUKU bukan SUKA BACA? Jika ditanya lebih suka mana membaca komik online atau komik dalam fisik buku, gue akan memilih komik dalam fisik buku. Gue sangat menikmati ketika tangan gue bersentuhan dengan kertas buku dan aroma yang ditimbulkannya tiap halaman berganti. Pasti kalian juga merasakan hal ini kan? Karena bukulah, gue pake kacamata (tunggu), mungkin karena membaca makanya gue pake kacamata? Hahaha jika kalian rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli sebuah buku hingga rak buku kalian sangat padat, patut dipertanyakan apakah kalian SUKA BUKU atau SUKA BACA? Ya, kalo semua buku-buku itu sudah dibaca, ya artinya suka baca. Tapi kalo tidak dibaca? Artinya kolektor kali yah? Umumnya orang menganggap, "orang yang memiliki banyak buku, berarti dia memiliki hobi membaca", padahal belum tentu kan?

SUKA BACA
Membaca memiliki arti yang luas bagi gue. Beda sekali dengan seminar yang menyudutkan gue itu, yang mewajibkan gue membaca buku. Bagi gue, sekadar membaca status orang di twitter sudah termasuk MEMBACA. Sayangnya seringkali kata "membaca" dikaitkan dengan "buku" (harusnya komik juga dong! Sensi gue). Dari sini kita bisa katakan, "nggak mesti punya buku, kalo emang suka membaca". Apa gunanya perpustakaan diciptakan? Lalu bagaimana dengan orang-orang yang senang membuka buku di toko buku kemudian membacanya tanpa membelinya? Lalu apa guna blog ini ada kalo bukan untuk dibaca? Sama halnya seperti orang yang rajin membaca "aturan pakai" di setiap produknya, mereka lebih sering disebut sebagai "orang teliti" ketimbang "orang yang suka baca". Apakah hal ini semua karena julukan "kutu buku" yang merujuk pada orang yang suka baca, sehingga kata baca pasti menikah dengan buku? #Sotoy.

Di jaman yang serba digital ini, banyak sekali orang yang gue temui "merundukkan" kepalanya karena melihat handphone bukan buku. Dan seketika semua orang banyak yang suka asal "nge-judge" karena mereka memegang handphone bukan buku. Padahal mereka juga lagi "membaca" kan? Gue nggak nyalahin kalo budaya negeri kita ini bukan negeri "pembaca", bahkan banyak orang dewasa yang memerintahkan generasi muda untuk membaca tanpa memberi contoh kalau mereka juga seorang pembaca. Kebiasaan membaca bagus sih, TAPI seringnya membaca kilat kalo di handphone kan? Misal lo follow akun koran gitu, ada judul dan link artikelnya, eh lo langsung berkomentar cuma karena judulnya tapi belom BACA keseluruhan.

Kalo SUKA BUKU dan SUKA BACA, alangkah lebih baik lagi. Kenapa? Karena kalo SUKA BUKU, pasti bukunya terawat. Misal biar nggak ada halaman yang ketekuk, setiap buku dikasih pembatas buku (kalo nggak dapet, biasanya bikin sendiri), atau nggak rak bukunya pasti nggak dibiarin berdebu. Kalo SUKA BACA, pasti bukunya luwes dan nggak kaku. Uang yang terpakai untuk membeli buku nggak sia-sia, dan di otak punya "bekas" dari pengalaman si penulis. Dan kemudian, pertanyaannya kembali lagi ke gue, apakah gue SUKA BUKU atau SUKA BACA? Komik-komik gue sempat gue rentalin biar dapet duit dan alhasil buku gue nggak teawat. Kalo gue sangat menyukai buku itu atau membaca buku itu dengan serius, biasanya buku itu gue coret atau gue beri tanda untuk dibaca ulang. Berarti gue nggak suka buku dong? Eits, di rak buku gue, masih banyak buku yang belom gue baca. Terus gue ini apa?

Oke, oke, maaf gue terlalu #Sotoy membuat SUKA BUKU dan SUKA BACA menjadi berbeda sekaligus terpisah. Semenjak gue mulai bosan membaca apa yang ada di handphone gue (walau terkoneksi di internet), saat ini gue memutuskan untuk menjadi orang yang SUKA BUKU dan SUKA BACA. Gue mulai menyicil buku-buku yang belum gue baca, walau seringkali seperti orang mabok masih membawa buku baru (baru dibeli atau pun baru dipinjam). Tapi gue tetep baca berita lewat handphone (entah rasanya lebih asik aja saat ada link-link terkait ketimbang baca koran yang sedang terbit). Hehehe mari teman-teman kita budayakan membaca. "kalau mau tulisannya dibaca orang, mulailah dengan membaca tulisan orang lain" ini adalah sebuah etika yang baik. Salam #Sotoy
Pandang lagi langitnya »»