Jumat, 04 April 2014

[Review] The Raid 2: Berandal - Nggak bisa nafas

WARNING! POSTINGAN INI SUBJEKTIF DAN PENUH SPOILER

Judul: The Raid 2: Berandal (2014)
Produksi: Merantau Films
Sutradara: Gareth Evans
Penulis Naskah: Gareth Evans
Jenis Film: Aksi - Drama
Pemain: Iko Uwais, Arifin Putra, Tio Pakusadewo, Oka Antara, Julie Estelle, Yayan Ruhian.

The Raid 2: Berandal menceritakan tentang Rama (Iko Uwais) yang mengganti identitasnya menjadi Yuda demi mengemban misi membongkar sindikat koruptor di dalam tubuh kepolisian itu sendiri. Perubahan identitasnya didasarkan tugas yang diemban Rama sangat berbahaya. 5 tahun lamanya, Rama menjadi Yuda, seorang tahanan penjara yang mengawasi pergerakan Uco (Arifin Putra), anak laki-laki Bangun (Tio Pakusadewo), bos gengster yang sangat terpandang.

Sukses dengan The Raid pertama, pastinya penduduk Indonesia termasuk gue sangat menantikan The Raid 2. Pastinya film ini masuk ke daftar film yang harus ditonon. Apalagi harapan gue terkabul dengan adanya Donny Alamsyah, yang berperan sebagai abangnya Rama di The Raid pertama masih muncul walau cuma di adegan awal.

Gue akan memulai dari treatment kamera yang ciamik abis. Adegan pertarungan The Raid 2 ini emang bener-bener BRUTAL dibandingkan The Raid sebelumnya. Dan juga fokus adegan pertarungan di the raid 2 ini banyak bermain di ARENA TERTUTUP dan SEMPIT, contohnya di dalam bilik toilet dan dalam mobil. Pengambilan gambarnya pun asik banget, angle kameranya di atas coy! 360 derajat lah gitu, sudut pandangnya langit-langit ruanganlah gitu. Gue pun sempet mikir, itu gimana cara ngambilnya kalo di dalem mobil? Smooth banget. Pertarungan yag berlangsung cepet emang bikin kita berdebar, apalagi ditambah dengan MOVEMENT KAMERA YANG CEPAT, bikin yang nonton NGGAK BISA NAFAS. Gue angkat tangan, gue nggak dikasih waktu untuk bernafas dan mengalihkan mata gue sedikit karena movement kamera yang sangat cepat. Ngedip sedikit, pasti kehilangan beberapa SHOT YANG CIAMIK.
SUMBER FACEBOOK CINEMAGS
Di film-film action yang menggunakan koreografi, seperti film kungfu biasanya ada adegan yang slowmotion untuk efek dramatis. The Raid 2 justru nggak menggunakan itu! Semua adegan bener-bener dibuat cepat dengan "tektok" yang tepat. Kebayang kalo itu juru kameranya ikut latihan movement bareng pemainnya, biar tau RITME koreografi pertarungannya.

Yang kedua, permainan sound yang bombastis. Jarang ada film yang hampir seimbang antara sound dan visualnya. Gue suka banget adegan dimana Rama menyalakan musik dengan keras dan suaranya berganti dengan smooth beriringan dengan gambar yang berpindah ke handphone yang digunakan Rama untuk menelpon istrinya. Efek suara pistol, tulang patah, kulit terbakar, cabikan palu, pukulan tongkat baseball, semuanya bener-bener berasa NYATA dan KUAT.

Yang ketiga, setting yang nggak terduga. Misalnya adegan pertarungan di daerah Blok M, memang terasa tidak mungkin dan tidak logis, tapi INI LOGIKA FILM. Gue terkesan melihat halte transjakarta yang rusak dan ambruk, jalanan Blok M yang seperti arena balap mobil ala fast and furious. Gue sangat menikmatinya.
PERUBAHAN SETTING. SUMBER @GHUWEVANS
BENTENG VAN DER WIJK KEBUMEN

JALAN SEKITAR BLOK M TIBA-TIBA ADA GAMBAR CLAYCAT THE RAID
Sesuatu yang dirasa nggak mungkin tiba-tiba menjadi mungkin di dalam dunia The Raid 2 dengan segala LOGIKA FILM yang mereka anut. Dan ini berkaitan dengan yang keempat, efek dan make up fantastis.
Bagi yang belom nonton dan iseng search kontroversialnya The Raid 2 selain soal dicekal di Malaysia, pasti pada nemuin soal berita "Salju di Jakarta ala The Raid 2". Salju hadir di adegan kematian Prakoso. Kalau kalian tahu, Prokoso itu diperanin Yayan Ruhian yang meranin karakter paling fenomenal di The Raid pertama, yaitu Mad Dog. Yup, dia main lagi dengan karakter yang berbeda. Karakter suami takut istri hihihi. Banyak yang kaget dengan SALJU yang hadir di sini karena berpikir dengan logika biasa bukan logika film. Gue sangat suka salju ini! Gareth kayak mewujudkan impian gue untuk melihat Jakarta ber-salju walau cuma dalam film hahaha. Adegan ini sangat DRAMATIS, simbolis sekali, dan EFEK darah yang mengalir di salju itu terasa sangat menggumpal.
Dijuluki film yang too bloody, tentunya efek DARAH menjadi hal yang paling menarik buat diliat. Gue terkesan bagaimana make up artist The Raid 2 membuat darah, luka bakar, luka lebam di mata, sampai  satu mata Hammer Girl (Julie Estelle) yang buta itu. Semua begitu NYATA.

Yang kelima, icon yang memiliki ciri khas. Karakter Mad Dog di The Raid pertama menjadi sangat iconic dengan kalimat "greget"-nya yang akhirnya dijadikan meme comic Indonesia.
KARAKTER YANG ICONIC
Kalo dari fanart yang gue ambil dari cinemags, orang yang uda nonton The Raid 2 pasti tau ini siapa aja. Mulai dari kiri atas ke kanan bawah: Rama, Uco, Bejo, Eka, The Assassin, The Hammer Girl, The Baseball Bat Man, Prakoso. Semua punya ciri khas tapi yang paling berkesan adalah si paketan The Baseball Bat Man dan The Hammer Girl. Cuman yang punya kalimat trademark adalah si Baseball Bat Man aja sih dengan kalimat "sini bolanya", sementara The Hammer Girl bisu. Ya, lumayan lah kehadiran si Hammer Girl bikin seger mata para lelaki, secara karakternya kebanyakan cowok yah.
HAMMER GIRL CEWEK SENDIRI
Gue selalu inget kata dosen gue, "Susah bikin film action yang ada ceritanya" dan The Raid 2 bisa dikatakan LEBIH BERCERITA dibandingkan The Raid sebelumnya. Suara-suara musik tari daerah juga terasa di The Raid 2 dan membuatnya terasa INDONESIA BANGET dibanding The Raid sebelumnya. Terlepas saljunya itu. Spoiler dikit, gue yakin 100% bakal ada The Raid 3 dengan misteri tato-nya Bejo di tangan yang sering ditutupin sarung tangannya itu. Salut buat individual triangle system Gareth Evans, yang merangkap sebagai sutradara, penulis skenario, dan editor sekaligus. Nggak mabok, mas? Heuheu dukung film Indonesia dengan menontonnya di Bioskop. Jangan bawa anak kecil nonton film ini yah. Rate-nya uda (D)ewasa nih. Uda gitu, jangan dalam kenyang nonton film ini, kalo mual dan berakhir munt*h kan susah. Waktu di sundance festival ada penonton yang kejang-kejang soalnya, mungkin girang kali yah hehehe. Selamat nonton dan salam #Sotoy!

*Sumber gambar diambil dari: Facebook Cinemagz dan @Ghuwevans

8 komentar:

  1. keren kayanya filmnyaaa, tapi aku kurang suka yang action-action gitu kak. hehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha iya keren. Emang tergantung selera.

      Hapus
  2. Hanjiisssss kayaknya keren banget nih film. Gue dari lama pengin nonton tapi belum kesampean juga. Nggak ada waktu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hwakakak biasanya kalo laku, bakalan lama mangkirnya di bioskop

      Hapus
  3. I THINK SO TOO!
    Pendapat kita sama. The Raid : Berandal ini emang plotnya lebih seimbang dibanding The Raid : Redemption.
    Kalau dulu perbandingan story sama combat itu 30 : 70
    Kalau sekarang pas, 50 : 50.
    Jadi yang gak demen action kayak temen-temen gue, keluarnya enjoy juga karena nikmatin ceritanya. Dan yang demen Action + story kayak gue juga bisa berpuas hati muji-muji director Evans... <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya lebih ada dramanya. Kalo kata mad dog biar greget. Wkwkwk :3 puaslah yah adegan pertarungannya.

      Hapus
  4. I'm here for the action-rush, jadi ekspetasi pas ke bioskop itu udah nggak buat mikir cerita sana-sini (efek nonton The Raid ; Redemption).

    Sebenarnya masih rada mengganjal karena enggak ada karakter 'super' macam Mad Dog dan alur ceritanya yang 'rada tidak jelas' mulai dari rencana balas dendam Rama/Yudha ke Bejo, eh lari ke pengkhianatan Ucok -_-"

    ** maaf spoiler buat yang belum nonton **

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sih hahaha emang lagi dalam tahap "mencoba" membuat lebih bercerita. Emang dasarnya susah bikin film action yang bercerita yah. XDD keganjalannya bakal dijawab di The Raid 3.

      Hapus