Kamis, 14 Agustus 2014

Jika Kalian adalah Teman, Maka Janganlah Datang ke Rumahku

Yo~ ini postingan pertama di bulan Agustus yah?! Haduuuh parah banget yah terlambatnya. Aku minta maaf untuk telah lama meninggalkan blog yang tampilannya kurang menarik ini dan postingan terakhirnya tanggal 17 Juli :( okeh tanpa basa-basi lagi aku akan langsung membahas hal yang satu ini, betewe ini bukan cerpen yah. Kalo mau baca cerpen dan fanfiction sila ke sini
FOTO DARI INSTAGRAM PRIBADI
Kemarin, tepatnya hari senin, 11 Agustus tanteku meninggal dunia. Keluarga kami masih diliputi rasa duka yang mendalam. Keesokan harinya, timeline facebook-ku penuh dengan teman-teman tanteku yang nge-post segala macam dan doa ke wall facebook-nya. Kemudian aku berpikir, bagaimana akun social mediaku nanti jika aku meninggal? Maksudku, apakah teman-temanku nantinya hanya sekadar wacana mendoakanku lewat social media tanpa mendoakan secara langsung? Aku tidak bermaksud mengecap apa-apa ke teman-teman tanteku, toh aku juga pernah melakukan itu ke guru kimiaku. Mungkin itu sebagai karangan bunga yang diletakan di facebook walau sangat menyayangkan "doa"-nya. Dari situlah, tiba-tiba aku teringat dialogku dengan seorang teman, begini dialognya;

P (aku): Selamat ulang tahun yah! Maaf telat. Habisan lo nggak naro tanggal ultah lo di fesbuk sih!
S: Itulah tujuan gue! Gue mau tau siapa yang bener-bener temen gue put! Yang bener-bener ngucapin ultah ke gue. Mana tuh yang dulu ngaku sahabat, sekarang nggak pernah ngucapin ultah ke gue.
P: Pengen banget diinget ultah lo. Hahaha Ya, pasti banyak hal yang diinget, S**. Gue cantumin hari ultah gue, biar teman-teman gue ingat terus setelah ngucapin, gue bisa chat ke wall mereka sambil basa-basi bilang terima kasih karena uda ngucapin. Gue orangnya doyan ngobrol sih.
S: Ya, terserah sih. Cuma ngebuktiin yang kayak gitu nggak masalah juga, kan?
INFORMASI FB YANG BELUM PERNAH DIUPDATE
Dialog itu sempat membuatku kepikiran. Aku bukan tipe orang yang memikirkan sesuatu dengan sangat lama, apalagi untuk membuktikan mana yang teman atau yang tidak. Dan suatu hari smartphone-ku rusak dan semua kontak hilang, alhasil cara untuk menghubungiku adalah dengan Telpon atau SMS. Tentunya harus teman-teman yang menghubungiku duluan, baru aku tahu kontak mereka. Aku menunggu, siapa saja yang butuh aku? Aku suka berteman pada siapa pun, aku tak pernah mengatakan "Ah, lo temen kalo butuh!" pada teman-temanku. Karena teman adalah investasi menurutku, apalagi terkait siapa yang akan datang ke rumahku untuk mendoakan aku ketika kematian datang padaku. Maka dari itu, selalu aku yang memulai pembicaraan, selalu aku yang menyapa tanpa malu, menanyakan apa pun, melakukan basa-basi apa pun, agar mereka tidak ada satu pun yang merasa terlupakan olehku walau mereka bukan teman dekat bahkan teman yang belum pernah kutemui (hello, moi! Kapan kita bisa bertemu? Hehehe).

Suatu hari di facebook,
X: Lo kok nggak dateng bukber, put?
P: Hah? Bukber apaan? Gue nggak tau.
X: Itu di wassap uda pada rame kali ngomongin.
P: Kan hp gue rusak.
X: Waduh! Sorry gue nggak tau hp lo rusak. Nggak update status sih lo.
P: Gue uda update status kali. Sering malah di jam-jam kalian pada online buat ngumumin hp gue rusak.

Apa aku sedang ada di titik krisis teman karena hp rusak yah? Kembali ke kejadian tanteku meninggal, banyak sekali broadcast message yang menginformasikan kematian tanteku beserta alamat rumahnya yang tentunya untuk dikunjungi. Aku mohon, jika kalian adalah teman, maka janganlah datang ke rumahku saat kematianku atau pun kematian keluargaku saja. Aku takut pertemanan kita hanya sebatas social media saja. Aku takut aku mengenalmu dari status/hal apa pun yang kamu post saja. Aku takut kita hanya akrab di foto selfie saja. Aku takut do'a-do'amu yang akan kamu berikan untukku hanya menjadi wacana saja. Oke, jika kalian memang ingin aku yang memulainya lebih dahulu tunggulah hp rusakku itu kembali hingga aku dapat menghubungi kalian dan bermain ke rumah kalian lagi. Atau mungkin bertemu di suatu tempat yang kita anggap "rumah", tempat yang nyaman untuk sekadar ngobrol tanpa membuka hp. Jika kalian adalah teman, maka janganlah datang ke rumahku cuma sekali. Datanglah, agar ibuku yang gemar mendengar cerita anaknya dengan teman-temannya ini tidak bertanya "Kapan si A main kesini?" atau "Kamu masih suka hubungan sama si Z". Bagaimana dengan kalian, teman? Apa kalian juga sedang merasakan krisis pertemanan? Jangan sampe teman-teman kalian hanya datang saat pemakaman saja yah. Mari berteman!

*edisi "aku"*

13 komentar:

  1. Saya turut berduka cita atas meninggalnya tante Mbak Puti.

    BalasHapus
  2. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun... saya juga turut berduka cita.

    BalasHapus
  3. Iya sama :'v
    artikelnya bagus banget kak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kalau begitu, mari berjuang bersama. Terima kasih.

      Hapus
  4. malam ini malam minggu, aku dateng ke rumah kamu ya. inget jangan pake daster pas ak dateng, ntar ak g bis bedain antara kamu atau dispeser

    BalasHapus
    Balasan
    1. dispeser itu ape? Hahaha jangan lupa gas elpijinye 2 ya, mas. Hahaha abang elpiji kan?

      Hapus
  5. teman adalah investasi, katanya - katanya keren, langsung muter - muter terus di otak aku xD

    Kalo aku sih gak punya temen banyak, cuman beberapa aja, karna gak pandai bersosialisasi juga, tapi mereka aku anggap teman baik semua. Tapi kadang aku sering ngalamin di suatu titik dimana aku merasa gak dibutuhkan lagi, karena merasa dibutuhkan juga termasuk kebutuhan buat saya :)) *ngomong apa sih ini*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak apa. Kadang teman sedikit tapi berkulaitas lebih baik dibanding punya banyak teman :)

      Hapus