Rabu, 29 Oktober 2014

Berlindung di Balik Kalimat "Follow your passion"

Yo! Sehubung gue ini pemudi sekaligus blogger, gue mau mengucapkan "selamat hari blogger nasional" untuk tanggal 27 Oktober dan "selamat hari sumpah pemuda" untuk tanggal 28 Oktober. Ohya, postingan ini telah melewati riset iseng yang gue lakuin dari masa kuliah gue waktu smester 3 (sekarang gue freshgraduate heuheu), menyelipkan pertanyaan di Liebster award yang gue bagikan (maaf yah kalian gue jadiin riset secara nggak sengaja), baca buku, dan wawancara singkat.
SUMBER
Saat kelas satu SMA, seorang motivator datang ke sekolah gue dengan menggembar-gemborkan "lentera jiwa" lagunya Nugie. Seminggu setelahnya, semangat "lentera jiwa" itu mulai memudar pada diri kami, tetapi gue terus kepikiran, bertanya-tanya, mencari tahu hingga gue menjadi mahasiswa broadcast UI. Smester ganjil, maba berdatangan dan angkatan gue diminta berbicara tentang "passion". Semua bersemangat membicarakan seperti apa "passion" itu, sementara gue terus kepikiran; "apa bener yah passion tuh gini? Kok gue nggak puas yah mengetahui passion sebatas ini? Sebatas pada pengertian dimana kalo pekerjaan yang sesuai passion itu nggak melelahkan dan kita akan selalu happy?". Dengan berbagai ketidakpuasan akan pengetahuan diri sendiri, gue pun memikirkan apakah jaman dulu juga uda ada passion tetapi belum ada istilahnya yah? Kok mereka anteng-anteng aja? Happy-happy aja?

Sambil bertanya tentu gue mencari tahu passion gue, apalagi tanpa sengaja gue masuk ke dalam lingkaran dunia industri kreatif dan kata passion semakin dilagukan. Passion sekarang sudah tidak diartikan sebagai gairah (sebagai arti mentah), dalam bahasa Indonesia, passion disebut dengan istilah renjana. Kata passion sendiri diduga dipicu oleh pidato Steve Jobs yang mengatakan "...the only way to do great work is to love what you do. If you haven't found it yet, keep looking". Ironinya, Steve Jobs mendirikan Apple demi mencari uang bukan karena passion.
Nah loh? Sementara itu beberapa orang telah terlanjur "berlindung di balik kalimat 'follow your passion'" untuk tetap berada di zona nyamannya. Hal ini beneran ada loh teman-teman tanpa kita sadari bisa saja itu terjadi pada kita, yup mungkin saja kita selama ini "berlindung di balik kalimat 'follow your passion'" dengan menyita waktu yang lama dengan hanya mencari dan menunggu passion barulah bergerak. Kalo menurut Rene Suhardono dalam dua bukunya, nggak dibenarkan jika seseorang nganggur selama 2 tahun hanya karena mencari dan menunggu passion-nya. Karena kita butuh SURVIVE. Walau ada aja sih yang memang baru bisa bergerak setelah tahu passion, manusia itu unik.

Dalam kedua bukunya, yaitu your job is not your career dan career snippet, Rene Suhardono menyebutkan PASSION is not what you are good at. It's what you enjoy the most. Nah, enjoy di sini gue anggep sebagai sesuatu yang kita suka tapi juga bisa bikin kita susah. Menurut gue, hal yang kita suka nggak selalu melulu tentang hal yang bikin kita senang #Sotoy. Mas Rene juga menyebutkan, passion diibaratkan sebuah pensil. Nah pensil bisa digunakan dalam macam-macam kegiatan entah itu menggambar, menulis dll. Jadi, harusnya nggak ada yang menyebutkan passionnya menjadi seorang presiden direktur atau mungkin penulis. Hal serupa juga disampaikan Sweta Kartika dalam perbincangan singkat dengan gue di Cocoon Festival kemarin. Menurut Mas Sweta, kita harus bisa membedakan PASSION dengan OCCUPATION (pekerjaan). Passion terdiri atas dua hal yakni, pleasure (kebahagiaan) dan meaning (value/nilai). Pleasure itu hal yang dirasakan selama kita mengerjakan sesuatu, meaning itu adalah apa yang kita hasilkan. Jadi, passion sebenarnya sebuah tujuan mulia, seperti membahagiakan orang. Kalau cuma pleasure itu namanya hobi bukan passion. Mas Rene dan Mas Sweta ternyata punya poin yang sama, kalau bisa hasil dari passion bukanlah sesuatu yang bisa diukur seperti uang. Kembali lagi ke tujuan mulia.
SUMBER
Berlindung di balik kalimat follow your passion emang rada kejam dan mengerikan sih. Pertanyaannya, apakah harus mencari passion lebih dulu atau kerja dulu sambil mencari? Jawabannya relatif karena manusia unik. Lagi-lagi Mas Rene dan Mas Sweta sependapat, menemukan passion itu seperti jatuh cinta. Nah jatuh cinta bagi beberapa orang berbeda-beda caranya. Mungkin saja ada yang harus pendekatan dulu baru jatuh cinta, ada juga yang baru liat langsung jatuh cinta. Passion maupun cinta sudah diciptakan dalam diri kita sendiri, sekarang tinggal menimbulkannya. Bagaimana caranya? Mas Rene berkata dalam bukunya; "Do what you are! And live in your uniqueness. Passion is not what you think you will like. It's all about what you FEEL when you do things".

Bicara tentang feel, Mas Rene pun mengusungkan rasa "antusias" adalah kunci menemukan atau menyadari passion. Menurut berbagai studi menunjukkan, mereka yang merasa sangat antusias bekerja justru adalah mereka yang sudah menggeluti bidang itu dalam waktu yang cukup lama. Nah, bisa dikatakan kalau orang yang menemukan passion (biasanya) yang telah berada di bidang itu cukup lama (tapi lagi-lagi tergantung pribadi masing-masing kan yah, teman. Ingat, manusia itu unik). Mengutip kalimat Kugy di perahu kertas-nya Dewi Dee Lestari, "Kita semua berputar. Mengerjakan sesuatu yang kita nggak suka demi hal yang kita suka". Dari kalimat itu, bagi gue nggak apa kok kita mengerjakan segala sesuatunya walau hal itu misalnya dianggap "salah jurusan" atau nggak kita banget.

Sejauh ini, gue menemukan bahwa passion gue adalah bercerita. Dan bercerita bisa menjadi macam-macam bentuknya. Entah itu film, tulisan, teater, diskusi dll. Tujuan mulianya adalah berbagi. Hal ini juga baru-baru saja disadari. Dari gue, tips sederhana untuk menemukan passion adalah nge-stalking diri sendiri dan mencoba sesuatu yang baru. Mendengarkan cerita masa kecil kita dari orangtua atau keluarga, membaca ulang diary, atau melihat apa yang kita update di social media. Terakhir, kata bokap, IKHLAS adalah cara paling ampuh untuk bahagia. Dalam kata ikhlas, ada kata sukarela dan ketulusan, rasa-rasanya cocok dengan passion, kan? Semoga kita nggak berlindung di balik kalimat follow your passion yah, teman-teman. Dan cara agar kita tidak tergelincir untuk berlindung di balik kalimat follow your passion adalah beraksi. Yang paling penting lagi, kita nggak boleh terpaku pada satu rumus yah, teman-teman. Postingan kali ini baru beberapa rumus saja dan semoga postingan gue kali ini bermanfaat. Mari berusaha dan beraksi! :)
GAMBAR DIAMBIL DARI SWETA KARTIKA
Ps: thanks to anak KK yang mau menjelaskan passion menurut mereka, yaitu Muthi Haura, Wahid Sabillah, dan Mahdianto. Tentunya Sweta Kartika yang mau gue ajak ngobrol soal ini.

Sumber:
Buku; Your job is not your career by Rene Suhardono
Buku; Career Snippet by Rene Suhardono
http://paramitamohamad.com/2014/03/09/follow-your-passion-saran-yang-menyesatkan/
http://www.provoke-online.com/index.php/lifestyle/lifestylenews/3063-mempertimbangkan-nasihat-follow-your-passion
http://startupbisnis.com/enjoying-the-journey-pemahaman-tentang-passion-dan-purpose/
http://muda.kompasiana.com/2012/08/27/mengikuti-passion-atau-di-zona-nyaman-saja-ya-482446.html

24 komentar:

  1. Hmm.. gue sendiri belum tahu passion gue di mana :|

    BalasHapus
  2. Gue sih ngelakuin yang seneng-seneng aja.. yang penting pas di hati. Hasyek~

    BalasHapus
  3. Ini lagi ada di masa-masa meyakinkan ini passion bukan sih, soalnya cukup susah ditekunin :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uwaaa semangat yah! Tetap berusaha! :)

      Hapus
  4. ribet klo mo kerja yang sesuai sama passion kita, klo gw sih jalanin aja dulu, toh seiring berjalannya waktu juga bakal dapet sendiri sisi "fun" dari kerjaan.
    Istilah passion dulu kemana aja? dulu mungkin ada tapi namanya bukan passion, maklum lah era presiden yang menguasai negara kita 35tahun, secara ga langsung membatasi rakyatnya untuk berekspresi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah yah betul. Berarti kamu termasuk orang-orang yang dalam beberapa studi di atas itu ^^
      Yang penting survive

      Hapus
  5. hooohh.. passion sesuatu yang menyenangkan dan juga menyulitkan.. :o
    menjalani dengan ikhlas dan hati riang namun tidak urung membuat kepala puyeng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm yah maksudya menyulitkan, pasti akan ada masa-masa sulit saat mengerjakan sesuatu tapi karen itu passion kita, kita nggak ngerasa capek dan tetap senang walau puyeng. Artinya ada semangat dan energi yang nggak henti-henti dalam melaksanakannya.

      Hapus
  6. Follow your curiosity...
    Makasih buat sentilan pagi karna baca post ini,
    This is AWESOME post! :)

    BalasHapus
  7. Menurut saya, cara terbaik menemukan passion dengan cara mencobanya, mencoba sesuatu yang baru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yep, maka dari itu di post ini mensugestikan untuk bergerak dan aksi, nggak diem nunggu.

      Hapus
  8. Passion gue sebenernya masih abu2 tapi udah mulai keliatan kok, dan gue juga menyadarinya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat!! Dan jangan lupa untuk berAKSI dan tetap berusaha ^^

      Hapus
  9. Gue rekomendasiin aja deh satu buku yang bisa merubah pandangan lo ttg Passion "ON" dari Jamil Azzaini sudah baca belum?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ngerubah lagi? Nggak deh cuma nggak apalah liat rumusan baru lagi. Referensi gue makin banyak dan kaya yah hahaha. Inti dari post ini sebenernya AKSI. Oke, makasih rekomendasinya ntar coba gue cari dan baca bukunya :)

      Hapus
  10. passion dan karrierku sekarang berbanding terbalik, tapi tetap terus berjuang :D
    suka banget artikel semacam ini jadi lebih terbuka lagi pikirannya ^^

    BalasHapus
  11. Wah kayaknya sama nih kayak gue, passionnya suka bercerita. kalo lagi ngumpul suka full bacot sendiri cerita apa aja, yg bikin seneng sih kalo cerita kita bisa menghibur orang lain :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha persis banget tuh! Kadang suka nggak kontrol yah? Hwhw siiplah yang penting kita harus tetap berAKSI

      Hapus